Wisata kuliner di Jogja dengan sudut pandang yang berbeda | Part 1

Wisata kuliner di Jogja dengan sudut pandang yang berbeda | Part 1
Wisata kuliner di Jogja dengan sudut pandang yang berbeda | Part 1

Setiap orang pasti sangat senang dengan wisata kuliner, mencoba cita rasa baru dan serta tampilan makanan yang unik. Di kota Jogja sangat banyak tempat - tempat kuliner yang asyik kita jumpai, mulai dari yan manis sampai yang pedas.


Ada banyak sekali para pengusaha kuliner yang membuat masakan atau makan tersebut unik, dari mulai rasa masakan, tampilan makanan, maupun atraksi sewaktu koki sedang memasak, sehingga membuat pelanggan atau pengunjung baru menjadi penasaran, apalagi dengan disertai banyaknya antrian yang terjadi waktu memesan makanan. Tetapi sebaliknya ada juga para pengusaha warung makan yang sengaja membuat warung makan tersebut “ramai” dengan cara melalui perantara yang tidak terlihat.


Kali ini saya mencoba untuk sharing kepada teman - teman mbatins beberapa tempat atau warung yang seperti “itu" disekitar kota jogja.

Mulai dari daerah selatan, karena saya tinggal di daerah selatan, sebuah warung sop yang cukup terkenal di jalan bantul, sewaktu saya mampir untuk membeli terlihat beberapa sugus (baca: pocong) berdiri di dekat baskom/ panci besar tempat untuk mengambil kuah, disertai air liur serta ludah nya yang dengan sengaja meludahi isi baskom tersebut. Pernah suatu ketika saya pulang pagi dini hari, sekitar jam 3 menjelang subuh, sengaja naik saya naik motor pelan karena udara sangat dingin, waktu melewati warung tersebut terlihat seseorang sedang menabur kembang setaman di depan warung tersebut, yang dengan sengaja memberi sesajen untuk sugus peliharaanya.


Kita ke utara sedikit dari jalan bantul lalu menuju jalan suryaden ada warung mie yang sangat laris, padahal tidak ada sepanduk, baliho atau alat promosi marketing lain nya. Dengan porsi yang banyak, serta bumbu kecoklatan yang khas dan harga yang tidak begitu mahal menjadikan pelanggan banyak yang berdatangan. Ada satu hal yang aneh menurut saya dalam porsi tersebut terdapat satu telur puyuh, kenapa tidak di kasih dua atau tiga sekalian, setalah saya selikidi untuk “melihat” lebih detail ada seekor sugus yang menjilati dan meludahi telur puyuh tersebut sebelum di sajikan yang menjadikan pelanggan datang kembali seperti kecanduan untuk membelinya.


Menuju ke arah timur, sebelum arah menuju kotagede di jalan pramuka ada rumah makan padang gak sederhana yang begitu laris, menurut teman - teman saya katanya masakan nya enak, akhir nya saya mencoba untuk kesana, ternyata warung yang dimaksud adalah warung dekat rumah kontrakan yang dulu pernah saya tempati, Iya, dulu saya dan keluarga sempat mengontrak rumah dekat dengan warung tersebut. Dengan beberapa sugus di dapur, serta kunti yang meludahi dan meneteskan air liur nya dan juga bocah - bocah kecil yang menginjak - injak masakan tersebut tak di pungkiri warung tersebut menjadi laris.

 

Part 2 berlanjut ya..