Review ala - ala : Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Review ala - ala : Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Sudah dua dekade lebih hingga hari ini Wiro Sableng muncul dalam bentuk sajian visul diawali dengan era Ken Ken kemudian digantikan oleh Abi Cancer lalu tongkat estafet jatuh ke tangan putra dari sang maestro cerita Pendekar Kapak Naga Geni 212 Vino Bastian. Jauh sebelumnya ketika kisa Wiro Sableng ini masih dalam bentuk novel sudah cukup membius banyak orang menatikannya dan mencarinya di setiap toko buku , persewaan komik, hingga kios – kios penjual majalah pinggiran jalan, berdiri tangguh bersaing dengan kisah silat tulisan Asmaraman S Kho Ping Ho hingga komik - komik silat guratan Djair , Ganesh TH, dan masih banyak lainnya.



Faktor – faktor diatas yang membuat orang tertarik dan penasaran untuk mencicipi sajian kisah Wiro Sableng ini di layar bioskop juga tentu saja sudah tampil dengan didukung teknologi yang lebih baik dibandingkan disupport juga oleh an disupport oleh Fox International Production, wow bakal menjadi film bertaste Hollywood. Ekspetasi tinggilah yang pasti muncul untuk film ini yang bagi bagi saya hal pertama yang terlontar ketika melihat teaser Wiro Sableng adalah kenapa harus Vino G. Bastian? Yes dia memang aktor yang cukup hebat dan berhasil mengeksekusi peran – perannya di hampir sebagian film, saya tidak berbicara segala perannya di FTV dan lain sebagainnya karena hanya hal yang sama dia tampilkan. Lupakan segala keraguan tadi karena saya kembali berpikir mungkin hanya dia yang pas memerankan Pendekar Kapak Naga Geni ini dan pasti saja hal ini merupakan kebanggan baginya bisa memerankan tokoh ciptaan Alm. Bastian Tito Ayahnya sendiri.



Kisah ini diawali oleh gerombolan Mahesa Birawa yang meyerang sebuah desa diakhiri tewasnya orang tua seorang anak kecil yang pada saat itu juga berhasil diselamatkan oleh Sinto Gendeng. Anak kecil tersebut yang akhirnya menjadi seorang Wiro Sableng dengan gemblengan ilmu beladiri beraliran putih milik Sinto Gendeng, Kapak Naga Geni 212 inilah yang diwariskan juga kepadanya. Banyak petuah diberikan oleh sang guru sebelum Wiro Sableng ini terjun ke kehidupan nyata untuk bisa mengemban ilmunya untuk kebaikan dan mencari Mahesa Birawa.

Petualangan dimulai diawali dengan pertemuan Wiro Sableng dengan Dewa Tuak dan Anggini yang nantinya akan ikut dalam perjalanannya menemukan Mahesa Birawa. Banyak pertarungan selama perjalanan Wiro Sableng dibumbui kisah penghiatan terhadap Raja Kamandaka, Bujang Gila Tapak Sakti pun bergabung ditengah – tengah petualangan ini. Perjalan Wiro Sableng cs pun berujung pada pertarungannya dengan Mahesa Birawa.

Alur cerita film ini ringan mengalir dan tidak meninggalkan kerutan di kepala, walau beberapa kartakter terasa lewat begitu saja seolah – olah tidak terbentuk sedemikian rupa salah satu contoh Anggini yang dimainkan oleh Sherina Munaf sangat terasa canggung seperti ada taste yang kurang disana tetapi tidak dipungkiri dia salah satu scene stealer selain Andy /rif dengan tokoh Dewa Tuaknya dan Fariz Alfarazi yang menurut saya berhasil mengeksekusi juga tokoh Bujang Gila Tapak Sakti walau sedikit terasa over the limit.



Daftar castpun disisi oleh nama – nama yang sudah tidak diragukan lagi dari Lukman Sardi, Dwi Sasono, Marsha Timothy, hingga Yayan Ruhian mengingatkan ketika film Saur Sepuh pertama muncul juga diisi oleh banyak aktor dan aktris yang waktu itu sedang top. Koreographi film terpoles apik dan lebih luwes kaku dan terlihat hidup.

Banyak adegan pemantik tawa dalam Wiro Sableng ini terlontar ringan tetapi hampa, lucu tapi kurang touchable, atau memang karakter Vino yang kurang bisa membangunnya sehingga jokes yang harusnya punya khans lebih nendang terasa mengelitik tetapi hilang begitu saja.

Special efeknya cukup outstanding untuk film laga sekelas Wiro Sableng ini cukup bisa dibanggakan bahkan jika sedikit berbicara tinggi film ini lumayan bertaste Hollywood.

Ekspetasi tinggipun terjawab untuk film ini, terasa cukup menghibur dan semoga ini bertahan hingga muncul sekuelnya (bila ada).

Point untuk film ini 8/10

 

Yuk sampai disini dulu review ala – ala nya dan sampai jumpa di korban berikutnya.