Review ala - ala : The Night Comes For Us

Review ala - ala : The Night Comes For Us

Semoga bukan hal yang terlambat untuk menuliskan film yang cukjup ditunggu banyak orang ini dengan penuh rasa penasaran akan jajaran cast yang terpampang tentunya,

Malam menurut kamus Timo Tjahjanto adalah panggung pertunjukan segala kegilaan, kebrutalan di bawah langit gelap berhiaskan kata-kata serapah bertahta pekatnya darah merah.

Siapa yang tidak terusik rasa penasarannya untuk menyaksikan Julie Estelle, Dian Sastro, Hannah Al Rashid sampai Abimana Aryasatya, Dimas Anggara, dan banyak lagi cast dalam satu frame yang akan  having fun bermain dengan gelimang darah dalam film ini.



Tusuk-tusukan, patah-patahan, dan kemudian splash!!darahnya terburai berkat gerak kamera yang aktif menampilkan aksi yang akan memnuat kita melotot yang mungkin akan memancing perut melakukan penolakan – penolakan agar mata tidak berlanjut menikmatinya. Semua tampak tak bercela dengan detail setiap jengkal bisa dijadikan sudut pandang yang menarik buat melihat aksi saling berbalas pukulan dan tendangan, setiap benda yang ada di dekat para cast dimanfaatkan sebagai senjata membela diri yang hanya bisa dituntaskan dengan salah satunya harus bersimbah darah bahakan munkin hingga kepala pecah tak berbentuk. Inilah point menarik dari film ini segala aspek; benda, lokasi, tokoh, udah seperti bidak catur dengan posisinya sudah dipikirkan dengan seksama demi menciptakan adegan saling pukul yang bisa dinikmati. Diantara wow efek yang hilang dan berganti menjadi c’mon guys that’s should be end! karena over strecthing hack, slash, crack, and splash.


Titik lemah yang mendasar adalah dari segi karakter yang seharusnya dibangun dan diceritakan dengan kuat karena di sini semua tampak hampir sama yaitu muncul hanya sebagai pendamping dipengisian cerita karena semua tergambar hanya datang untuk bertempur kemudian tewas atau lenyap tanpa ada titik penjelasan yang terang. The Night Comes for Us juga mengikuti nasib film Timo sebelumnya dengan Sebelum Iblis Menjemput (2018), sebagai pengecualian, mengalir dengan cerita yang kurang mengikat dan tipis seolah – olah ini sekedar film bernafaskan martial arts dengan bumbu slasher hingga gore. Dasar cerita hanya sebagai pakaian usang yang dipakai ulang, pertemanan – mafia – penghianatan – balas dendam – ending dan menimbulkan pertanyaan mendasar seperti “ini kenapa jadi begini”, “kenapa mereka bisa seperti ini?”.



Pada saat adegan-adegan berantem. Film ini sering membuat kondisi tak-menguntungkan buat tokoh-tokoh baik, mereka dikeroyok banyak orang, mereka harus selamat dari kondisi puluhan lawan satu. Tapi kita tidak melihat keroyokan tersebut sebagi hal yang normal , tapi seperti sebuah adegan fighting yang terlihat seperti bergiliran. Musuh akan menunggu sampe temannya tewas, baru maju ke depan bergantian seperti sebuah antrian menuju kehancuran dan kematian. Suspensnya jadi terasa melayang hilang. Cukup diakui tone warna film ini cukup mewakili ketegangan aksi dalam setiap adegannya.


Joe Taslim / Ito adalah salah seorang dari anggota pembunuh andalan mafia Triad, yang disebut Six Seas. Bisa kita bilang, Ito cari makan dengan membunuh-bunuh keluarga orang. Dalam adegan awal, kita melihat Ito mengalami pergulatan moral dalam salah satu misi mulianya. Alih-alih menghabisi anak cewek penduduk kampung yang sedang ia bantai, Hal ini membuat Ito dan si gadis cilik diburu. Ito meminta bantuan kepada pasukan lamanya, teman – teman yang sudah ia tinggalkan padahal mereka dulu bercita-cita masuk Six Seas bersama. Konflik Ito dengan Arian yang diperankan oleh Iko Uwais sebenarnya cukup menarik. Tidak ada kedamaian dalam malam orang seperti Ito. Keberadaannya tercium, dan bermacam-macam pembunuh, bahkan tak terkiranya jumlahnya bermunculan. Anyway saya lebih suka melihat Iko di sini dibanding di Mile 22 karena terlihat lebih cool dan berkarakter sebagi seorang friend becomes villain. The Operator yang dimainkan oleh Julia Estelle merupakan scene stealer film, begitu dalam dan mempesona. Ada harapan akan ada spin off untuk tokoh ini karena menurut saya sudah saatnya muncul film aksi bak – buk dengan main characternya wanita.



Sebagi tontonan yang mengiris hati tapi menghibur film ini adalah pilihan yang tepat. Dia punya jurus – jurus jitu yang diolah cerdik untuk membuat kita tetap mengikutinya hingga credits scene.

Baiklah sampai di sini dulu review ala – ala saya dan sampai bertemu di korban selanjutnya.