Review ala - ala : Sultan Agung : Tahta, Perjuangan, Cinta,

Review ala - ala : Sultan Agung : Tahta, Perjuangan, Cinta,

Film dengan latar belakang sejarah bila tidak ditangani dengan baik akan menjadi hal yang membosankan dan akan lewat begitu saja.

Dengan durasi yang hampir bisa dibandingkan dengan film India tanpa tari – tarian massal dari balik pohon, tetapi Sultan Agung cukup bisa mengikat saya mungkin bagi yang menonton menikmatinya sampai akhir.

Sebuah paparan yang cukup bisa dikatakan kolosal yang disajikan ringan tanpa harus memaksa kita berpikir berat ditengah film.

Bahkan ketika film menginjak scene perang saya seperti diajak ikut merasakan degub rasa tegang, takut para pasukan ketika menghadapi medan perang, layaknya seperti nmenonton film 300 .

Sultan Agung Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman adalah gelar yang diberikan bangsawan asal Arab untuk Sultan Agung. Melalui dialah Mataram menjadi kerajaan terbesar di pulau jawa paska runtuhnya Majapahit.



“Mukti utawa Mati” adalah teriakan yang dilontarkan Sultan Agung untuk mengobarkan semangat berperang kepada semua yang akan berangkat menuju Batavia ketika Dia menyatakan perang dengan VOC. Perang besar yang membawa korban yang tidak sedikit dari rakyat yang tidak menyurutkan untuk kembali membuat serang kedua dengan strategi membendung sunga Ciliwung guna menyebarkan wabah kolera. Peristiwa ini berujung tewasnya Gubernur VOC Jan Pietersszoon Coen.

Film ini sangat pintar bercerita sehinga membuat kita menikmati kisah yang jauh sebelum negara ini berdiri bahkan sebelum Mataram terpecah menjadi dua, plot terjalin apik dari awal, tengah, hingga akhir film.

Departemen casting cukup pintar memasang para pemainnya sehingga mereka bisa tampil baik, dari Marthino Lio sebagai Raden Mas Rangsang (Sultan Agung muda), Ario Bayu bisa menjelma sebagai Sultan Agung dengan penuh wibawa walapun wajahnya terlihat cukup angker di sini , hingga Putri Marino yang sudah mencuri perhatian melalui Posesif berhasil back to back dengan Adinia Wirasti mengesekusi peran Lembayung.

Dialong - dialog terlontar cukup empuk dengan selipan one line khas film Hanung Bramantyo.



Set art film ini mampu tampil sesuai dengan jaman yang sedang dikisahkanm, salah satu yang kurang menurut saya adalah tone warna dari film ini sedikit terlalu pop.

8 dari 10 untuk film ini dan menjadi sajian yang cukup baik untuk keluarga karena kandungan nilai sejarahnya.

Oke sampai sini dulu review ala – ala untuk film Sultan Agung, sampai jumapa lagi di korban selanjutnya.