Review ala - ala : Bohemian Rhapsody

Review ala - ala : Bohemian Rhapsody

Banyaknya hal yang harus dikerjakan dengan prioritas utama berdampak review ini sedikit tertunda untuk ditulis :) So semoga ini tidak terlalu basi untuk dinikmati.

"Tak usah mencari kebenaran sejarah dalam film biografi musisi" - George Custen


Terlahir dengan gigi ekstra itu membantu menambah range vokal, menurut seorang Farrokh pemuda keturunan Parsi India yang dikemudian hari dikenal dengan nama Freddie Mercury (Rami Malek). Seorang lead vocal yang kemampuan bernyanyinya tak bisa disamai oleh siapapun di dunia. Bahkan dia bisa dikatakan one of a kind yang sangat flamboyan secara persona.



Freddie menemukan teman-teman band sebagai pelipur kesendirian, di mana dia merasa dirinya dibutuhkan. Queen sebagai band luar biasa dengan lagu-lagu yang beberapa rumit untuk dikategorikan genrenya. FIlm ini banyak mengeksplorasi kehidupan seksualnya di mana relasi asmaranya dengan seorang sahabat cewek berakhir setelah dugaan Freddie seorang homoseksual terjawab. Menjadi susah bagi Freddie untuk keep up with his families ketika keluarga bandnya tersebut beneran punya keluarga masing-masing di balik panggung, sesuatu yang tak bisa ia punya.


Jelas! kisah Freddie Mercury memang punya potensi  besar untuk dirangkai menjadi biopic mengikuti Doors (1991) yang lebih banyak mengupas kisa Jim Morrisson dan Stoned (2005) yang menceritakan co-founder Rolling Stones hingga pada perilaku sex-nya. Queen ingin mengajak kita bernostalgia bernyanyi bersama lagu-lagu mereka  mengikuti pembuatannya, jadi jika digambarkan ini seperti sebuah sajian Broadway versi band rock, Tapi diantara kemegahan film ini , sangat disayangkan Bohemian Rhapsody menggunakan premis yang standar.


Ketika menonton film ini saya memang  melepaskan nafsu spontan dalam mengkritisi sebuah musik karena keinginan untuk menikmati perjalanan Queen dalam merekam lagu, bagaimana mereka memasarkan lagu Bohemian Rhapsody yan enam-menit dan terbagi dalam 4 susunan yang jika di dalami ini lagu ini cukup personal jika digambarkan ke sosok seorang Freddie. Konser Live Aid sebagai penghujung film ini hampir membuat saya ikut ber-sing along tetapi urung karena terlibih dulu tersadar bahwa saya ada di antara puluhan orang yang sedang terhanyut dalam film ini. :)



Top noch untuk penampilan Rami Malek sebagai Freddie Mercury. Jika pada film ini, Freddie berkata dia merasa sudah memenuhi takdirnya sebagai penampil, penyanyi di hadapan jutaan orang. Maka, Malek dalam film ini seperti sudah garis tangannya untuk memainkan sosok Freddie Mercury. Seperti dia terlahir di dunia demi film ini, segala gestur, pembawaan, sikap, kecuali postur tubuh yang sedikit kecil kita percaya dia adalah Freddie.


Sebuah biopik memiliki syarat penting yaitu menceritakan sesuatu sedari awal dan ini bikin geregetan karena kita tahu ada banyak dari Freddie Mercury hal yang menarik untuk diangkat dan dijelajahi. Dari bagaimana dan dari siapa ia mendapat inspirasi penampilannya di atas panggung hingga bagaiman dia mendapat isnpirasi dalam  menulis . Sayang film tidak memberikan ini. Proses kreatif Queen dalam menghasilkan lagu-lagu unik hanya diperlihatkan sebatas montase. Pun hanya ada beberapa adegan Freddie menulis  lirik di atas kertas. Sejak  awal membentuk  band, mereka sudah terasa sangat Queen.



Kita tidak melihat cukup banyak siapa dirinya sebelum bermusik. Status keluarganya sebagai imigran tidak dikaitkan ke dalam konteks outsider yang menjadi identitas Freddie. Kita seperti  tidak diperkenalkan dengan betul-betul kepada May, Taylor, ataupun Deacon. Mereka hanya ada tetapi kita tidak pernah dibawa masuk ke dalam kepala ataupun melihat ‘masalah’ mereka. Hubungan Freddie dengan ayah dan ibunya adalah elemen yang penting tetapi mereka hanya muncul ketika script membutuhkan suntikan drama, kita tidak pernah melihat bagaimana keluarga mereka sebenarnya.


Film sebenarnya bekerja dengan sesuai di dalam konteksnya. Dan nantinya akan maju sesuai dengan pembelajaran yang dialami oleh Freddie. Awalnya kita melihat cerita ini dari sudut pandang dirinya di mana dialah spotlightnya.  Di awal dia melihat dirinya sebagai satu orang, dia tidak  memberikan perhatian penuh dengan sekitar. Makanya kita enggak diperkenalkan benar-benar dengan anggota band yang lain, sebab Freddie hanya ‘melihat’ mereka. Segala proses rekaman, manggung, masalah percintaan, kita melihatnya dari mata Freddie sebagai ‘one-man person’. Barulah setelah dia menyadari apa itu keluarga, saat dia benar-benar melihat dirinya bagian dari keluarga, sudut pandang dia dalam cerita ini berubah, dan kita merasakannya.


Film ini bisa saja mengeksplorasi lebih banyak dan detil tentang dunia Freddie Mercury, tapi itu akan mengeluarkannya dari roda konteks. Karena ini adalah tentang Freddie si outsider yang tadinya memandang dirinya sebagai terpisah, menjadi bagian dari keluarga. Menurutku, film secara spesifik sengaja mengambil penceritaan seperti demikian. Sengaja meninggalkan banyak hal penting yang ingin kita ketahui karena mereka ingin menempatkan kita di dalam kepala Freddie Mercury. 


Sebagai sebuah sajian hiburan yang mungkin bisa membangkitkan sisi nostalgia bagi sebagian besar mereka yang mencintai Freddie dan Queen film ini salah satu obat mujarabnya.

So sampai di sini dulu mungkin kita segera bertemu di review ala - ala yang lain.