Membaca 'Clara' dari Seno Gumira Ajidarma

Membaca 'Clara' dari Seno Gumira Ajidarma

Membaca ‘Clara’ karya Seno Gumira Ajidarma menggugah memori lama tentang tragedy 1998. Tak hanya meninggalkan malu dan luka di wajah bangsa Indonesia, tragedi 1998 yang kemudian banyak dipublikasikan dan dibahas di seluruh dunia juga ikut memberi tahu dunia betapa bangsa ini pernah (atau masih) menjadi tempat yang sangat tidak adil bagi minoritas.


Persamaan derajat dan emansipasi perempuan memang telah sering diteriakkan, tapi bukan berarti hal ini bisa menghapuskan semua perbedaan hak antara laki-laki dan perempuan di mata masyarakat, khususnya di lapisan masyarakat yang memiliki pendidikan rendah atau yang memiliki pandangan konservatif. Perempuan masih menjadi minoritas di lingkungan ini.


Minoritas tidak selalu numerik (jumlah perempuan dibandingkan dengan jumlah laki-laki), lebih dari itu, minoritas merujuk pada kelompok-kelompok yang hanya memiliki sedikit social power (atau tidak sama sekali) didalam masyarakat. Di dalam kelompok minoritas ini, gender merupakan target diskriminasi pertama yang teratas yang kemudian diikuti dengan ras, etnis, agama, orientasi seksual, atau kewarganegaraan.


Tripple Oppresion

Dalam cerpen ‘Clara’, tokoh wanita fiksi ciptaan Seno tersebut memiliki 3 kriteria empuk sebagai sasaran diskriminasi yaitu: perempuan, ber-etnis tionghoa, dan dianggap sebagai bukan bagian dari pemeluk agama mayoritas. Dalam kajian feminisme barat, dikenal istilah triple oppression yang membahas tentang diskriminasi gender, kelas, dan ras. Sementara itu di Indonesia, kita mungkin bisa meminjam istilah yang sama untuk kasus yang dialami Clara dalam cerpen Seno, hanya saja kajiannya beralih menjadi triple oppression dalam gender, ras, dan agama.


Sebagai seorang perempuan, Clara ditempatkan sebagai inferior yang bisa dilecehkan oleh kaum laki-laki karena perannya yang dianggap minor. Hal ini sangat kontras sekali ketika menilik di dalam cerita bahwa sebagai anak perempuan pertama dalam keluarganya, Clara adalah yang paling kompeten dan bisa diandalkan dalam menyelamatkan usaha keluarga mereka. Ketika kerusuhan melanda dan keluarganya menjadi korban, Clara tidak lari menyelamatkan diri. Lebih dari itu, dia mencoba kembali kerumah dan menyelamatkan keluarganya, tindakan heroik yang justru mengantarkannya menjadi korban selanjutnya dari serangkaian insiden Mei 1998.


Clara yang digambarkan sebagai perempuan beretnis tionghoa, yang sering dipandang sebagai etnis yang tekun, ulet, dan teliti dalam bidang keuangan (atau sering dikonotasikan sebagai pelit), justru digambarkan Seno dengan cara berbeda. Clara menunjukkan kepeduliannya untuk tidak hanya menyelamatkan usaha keluarganya sendiri, tapi juga menyelamatkan perekonomian keluarga lain di saat yang sulit itu dengan cara memenuhi hak-hak buruh dan menolak memecat mereka dari perusahaan keluarganya walaupun dalam kondisi keuangan yang sangat sulit. Selain itu masyarakat yang sering memandang dan menandai cina sebagai liyan, asing, dan bukan bagian dari masyarakat Indonesia, telah dianggap gagal melihat Clara sebagai warga Indonesia yang tidak merasa bahwa dirinya bagian dari warga Negara lain. Clara yang lahir di Indonesia bahkan tidak pernah merasa dirinya bagian dari Negara lain. Clara yang mencoba menyelamatkan perekonomian pekerjanya, yang tidak bisa berbahasa cina, yang tidak mematok jodohnya harus berasal dari etnis yang sama, tetap tidak dianggap sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.


Isu lain yg diangkat disini adalah ideology yang dicoba untuk ditanamkan pemerintah pada aparat keamanan pada masa orde baru yaitu tentang korelasi antara etnis tionghoa dan komunisme. Orang cina dianggap sebagai orang yang tidak beragama dan karenanya menjadi komunis. Pada masa ketika masyarakat begitu gampangnya ditakut-takuti tentang komunisme, bahkan ketika mereka tidak mengerti arti komunisme sesungguhnya, hal ini menjadi sesuatu yang fatal. Pasalnya, kelompok minoritas yang dianggap sebagai komunis mendapat perlakuan yang sangat tidak layak dari masyarakat sekitarnya. Disinilah muncul dialog yang sangat mendiskreditkan tokoh Clara sebagai perempuan cina dalam cerpen Seno Gumira Ajidarma berikut:

”Sialan! Mata lu sipit begitu ngaku-ngaku orang Indonesia!” […]”Jawab! Pernah kan? Cina-cina kan tidak punya agama!” (Ajidarma, 2007).

Pada akhirnya, walaupun ditulis pada tahun 2007, cerpen karya Seno ini telah berhasil bertindak sebagai pengingat terhadap tragedi Mei 1998 sebagai bagian dalam sejarah kelam yang mencoreng wajah bangsa Indonesia. Kita sebagai generasi baru dihadapkan pada pilihan, untuk menjadi lebih baik dari generasi lama yang mendiskreditkan minoritas di negeri ini, atau untuk merangkul perbedaan dan menjadi satu bangsa Indonesia tanpa memandang gender, ras, ataupun agama.

 

 

Click this link to read the short story of 'Clara or The Woman Who was Raped' by Seno Gumira Ajidarma.