Harapan Itu Bernama Gundala


Gundala sang putra petir, sebuah nama yang santer terdengar di dunia pecinta komik nasional yang melegenda di indonesia pada medio tahun 70’an, komik karya almarhum Harya Suryaminanta atau yang lebih dikenal dengan nama Hasmi ini mulai redup di akhir 80’an karena serangan masif komik import terutama manga. Superhero lokal ini sering dianggap sebagai adaptasi salah satu karakter komik DC yaitu the flash, meskipun pada kenyataannya memiliki kekuatan berbeda, gundala bukan merupakan tipe speedster seperti the flash atau lebih tepat disebut bahwa kecepatan bukanlah kekuatan utama dari gundala, kemampuan mengeluarkan petir dari kedua tangannya adalah kekuatan utamanya.


PT BumiLangit sebagai pemegang hak pengelolaan gundala berusaha memperkenalkan karakter ini kepada generasi milenial, diantaranya melalui rencana pembuatan film dengan Hanung Brahmantyo sebagai sutradaranya pada tahun 2014, namun tanpa ada kejelasan project ini berhenti di tengah jalan, sempat santer terdengar kabar bahwa project ini akan dilanjutkan oleh Anggy Umbara, tapi lagi-lagi project itu berhenti ditengah jalan.


Pada tahun 2018, sebuah kabar mengejutkan terdengar dengan pengumuman bahwa Joko Anwar akan menulis naskah serta menyutradarai film gundala, hingga akhirnya pada event Indonesia Comic Con (ICC) secara resmi mengumumkan film gundala akan tayang pada tahun 2019. Jokan (Joko Anwar) salah satu faktor mengapa film ini layak untuk ditunggu. Arisan, Janji Joni, Pintu terlarang, dan tentu saja Pengabdi Setan yang fenomenal adalah beberapa karya Joko Anwar sebelumnya.


Ekspetasi tinggi muncul setelah melihat first look dan poster gundala, dengan kostum dan efek yang terlihat sederhana mengingatkan kita bagaimana Christopher Nolan melahirkan kembali Batman dengan sisi manusianya alih-alih kekuatan superheronya dan dengan penggarapan teknis yang minim CGI namun kuat dalam cerita, namun jika menilik bagaimana Jokan mengidolakan Zack Snyder kemungkinan film ini akan bernuansa noir ala watchmen dengan pendalaman cerita dan minim ledakan, yang sayangnya ini sepertinya akan menjadi kabar buruk bagi pecinta film-film penuh ledakan dan penuh warna seperti marvel cinematic universe.


Namun hal yang lebih penting, gundala akan membawa beban berat sebagai tolak ukur bagi kemunculan superhero lokal Indonesia berikutnya, seperti Godam, Aquanus, Sembarani. Jika gundala sukses, bisa dipastikan bahwa kemunculan fim-film superhero lokal hanya menunggu waktu, namun jika yang terjadi sebaliknya mungkin kita akan kembali memasuki masa kevakuman superhero lokal hingga gundala-gundala selanjutnya muncul.

 

In Jokan we trust